Kamis, 22 Maret 2012

MAKALAH URGENSI ILMU TAFSIR DALAM MEMAHAMI AL-QUR'AN


TUGAS KELOMPOK
STATISTIKA PENDIDIKAN
URGENSI ILMU TAFSIR DALAM MEMAHAMI QUR’AN
Makalah Ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Statistika Pendidikan
Dosen Pengampu : Drs. H. Abdur Rokhim Hasan. M A

Disusun Oleh :
Ahmad Luthfiuddin AB                       -10.21.0952-
Nur Fitriyani                -10.21.0967-
Nur Aini Janah            -10.21.0981-

FAKULTAS TARBIYAH (GPAI)
INSTITUT PERGURUAN TINGGI ILMU AL-QUR’AN JAKARTA
2012



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Urgensi

Urgensi berasal dari bahasa latin "urgere" (kata kerja) yang berarti mendorong dalam bahasa inggris "urgent" (kata sifat), dalam bahasa indonesia "urgensi" (kata benda).Istilah urgensi menunjuk pada sesuatu yang mendorong kita, yang memaksa kita untuk diselesaikan. [1]Dengan demikian mengandaikan ada suatu masalah dan harus segera ditindak lanjuti, urgensi bisa juga berarti "pentingnya", misalnya "urgensi kepemimpinan muda" itu lebih bearti "pentingnya kepemimpinan muda"

Salah satu contoh perintah itu, dalam QS. an-Nisa’ (4): 82 sebagai berikut, yang artinya :
Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an? kalau kiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak didalamnya.[2]

Ayat ini mendorong kita untuk memahami al-Qur’an dengan baik
                   dan dapat mengambil pelajaran sehingga setiap umat muslim dapat                
                   mengamalkan isinya, mencegah diri apa yang dilarang dan mengajak  
                   manusia kepada yang diperintahkan atau menjalankan kehidupan  
                   berdasarkan petunjuknya.[3]
B.     Kedudukan Al Qur’an

Al-Qur’an adalah sumber hukum utama dalam Islam, ia adalah
                   wahyu Allah ta’ala yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada Nabi         
                   Muhammad Shalallahu Alaihih Wasalam. Sebagai sumber hukum Islam,
                   maka Al-Qur’an harus dipahami oleh seluruh umat Islam.[4] Namun tidak
                   semua orang bisa memahaminya dengan benar, bisa karena kekurangan
                   akalnya atau keterbatasan ilmu yang dimilikinya.

Maka, untuk memudahkan dalam memahami Al-Qur’an, para
                   ulama merumuskan suatu ilmu yang menjadi alat untuk memahaminya,           
                   ilmu tersebut adalah ilmu Tafsir. Dengan ilmu tafsir akan diketahui
                   apakah suatu ayat bermakna ‘am atau khas, tekstual atau kontekstual serta
                   pemahaman ayat lainnya.[5] Secara sederhana tafsir adalah penjelasan ayat-
                   ayat Al-Qur’an, merincinya dan mengambil hukum darinya.

Pada masa Rasulullah penafsiran Al-Qur’an dilakukan
                    langsung oleh beliau, sehingga setiap ada ayat yang tidak dipahami oleh        
                    para shahabat maka langsung ditanyakan kepada Rasulullah. Inilah salah
                    satu dari tugas beliau yaitu menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an,
                    sebagaimana kalamNya yang mulia:

بِٱلْبَيِّنَٰتِ وَٱلزُّبُرِ ۗ وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
                   keterangan-keterangan  (mu’jizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan              
                   kepadamu al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa  
                   yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan. QS
                   An-Nahl : 44.  
           

Ayat ini menjadi dalil bagi tugas Rasulullah yaitu menjelaskan
Al-Qur’an kepada seluruh umat manusia. Hadits-hadits yang                                                       menyebutkan beliau memberikan penafsiran berbagai ayat Al-Qur’an yang tidak dipahami oleh para shahabat sangat banyak jumlahnya

    Demikian juga hadits Anas bin Malik yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim Rasulullah bersabda tentang Al-Kautsar adalah sungai yang Allah janjikan kepadaku (nanti) di surga.

     Selanjutnya setelah Rasulullah wafat maka setiap pertanyaan yang muncul tentang makna ayat Al-Qur’an segera ditanyakan kepada beberapa shahabat Nabi semisal Abdullah bin Abbas, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, Ubay bin Ka’ab dan beberapa shahabat lainnya.[6] Para shahabat adalah orang-orang yang sangat memahami makna Al-Qur’an, karena ayat-ayat tersebut turun ketika mereka berada di sekitarnya. Bahkan beberapa ayat merupakan jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Nabi,

     Sesungguhnya,Al Quran merupakan tali Allah yang sangat kuat dan jalan-Nya yang lurus, Allah telah menyebutkandengan sifat yang sangat agung.[7]




                   Allah berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا
Artinya :
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Rabb-Mu, dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang ( Al-Quran ).”( QS. An Nisa’: 174 )


C.     Urgensi Tafsir        

     Tafsir termasuk disiplin ilmu islam yang paling mulia dan luas cakupannya. Paling mulia, karena kemulian sebuah ilmu itu berkaitan dengan materi yang dipelajarinya, sedangkan tafsir membahas firman-firman Allah. Dikatakan paling luas cakupannya, karena seorang ahli tafsir membahas berbagai macam disiplin ilmu, dia terkadang membahas akidah, fikih, dan akhlak[8]. Di samping itu, tidak mungkin seseorang dapat memetik pelajaran dari ayat-ayatAl-Qur’an, kecuali dengan mengetahui makna-maknanya.[9]

     Oleh karena itu, kita sebagai seorang muslim harus berusaha mengetahui tafsir Al-Qur’an agar mampu mengambil manfaat darinya dan mampu mengikuti jejak salafus shalih.[10]

     Dengan urgensi tafsir seperti itu, membawa ulama sepakat bahwa tafsir termasuk fardu kifayah dan merupakan salah satu dari tiga ilmu syariat yang paling utama setelah hadis dan fikih.  Keutamaan ilmu tafsir bukan hanya karena ilmu ini membahas pokok-pokok ajaran agama yang sangat dibutuhkan, akan tetapi mempelajari ilmu ini mengandung tujuan mulia, karena pokok kajiannya adalah Kalamullah[11]
D.    Metode penafsiran Al Qur’an

     Setelah mengetahui betapa urgennya tafsir, maka sudah seharusnya kita juga mengetahui metode penafsiran Al-Quran yang benar, agar dalam menafsirkan Al-Quran tidak menimbulkan pemahaman-pemahaman yang menyimpang. Secara ringkas, dalam menafsirkan Al-Quran ada empat metode, yaitu sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam Muqadimah tafsir beliau, “Metode paling tepat dalam menafsirkan Al-Quran adalah menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran, karena ayat yang masih global akan dijelaskan di ayat lain, apabila kamu tidak mendapatkan penjelasannya dalam Al-Quran, maka carilah penjelasan dari As- Sunnah, karena As-Sunnah adalah penjelas Al-Quran, kemudian jika kita tidak mendapatkan penjelasan di Al-Quran dan As Sunnah, maka kita meruju’ ke perkataan para sahabat, karena mereka lebih mengetahui dan melihat langsung indikasi-indikasi yang menjelaskan Al-Quran, dan juga mereka memiliki pemahaman yang sempurna dan ilmu yang benar serta amal solih, terlebih khusus para ulama dan pembesar mereka, seperti empat khalifah dan para imam yang diikuti seperti Abdullah bin Mas’ud.Dan apabila aku tidak mendapatkan penjelasan dalam Al-Quran, As Sunnah, dan dari perkataan para sahabat, maka mayoritas para ulama meruju ke perkataan para tabi’in” (Wajdi Khalid)

E.     Perhatian ulama terhadap tafsir Al Qur’an

     Para ulama sangat memfokuskan perhatian mereka kepada Al Qur'an. Dan salah satu bentuknya dengan menulis tafsir Al-Qur’an dan menjelaskan makna-makna yang terkandung di dalamnya. Dengan menarik kesimpulan hukum dan faedah dari ayat-ayatnya sesuai dengan kadar ilmu, iman, dan takwa yang telah Allah berikan kepada mereka.[12]

     Syeikh Ibnu Utsaimin -semoga Allah merahmatinya-menjelaskan : “Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan untuk tiga perkara: beribadah dengan membacanya, menghayati makna-maknanya, dan mengambil pelajaran darinya”. 

     Beliau juga berkata, “Seorang penuntut ilmu seyongyanya berusaha membawakan sebuah ayat untuk disampaikan tafsirnya dalam setiap kesempatan berkumpul dengan orang banyak, terutama tafsir ayat yang sering mereka baca, misalnya surat Al-Fatihah. Karena jika anda tanyakan kepada seorang awam ataupun kepada mayoritas orang awam tentang tafsir surat Al-Fatihah, mereka tidak akan mengetahui tafsirnya sedikitpun insya’Allah”.






BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Urgensi berasal dari bahasa latin "urgere" (kata kerja) yang berarti mendorong dalam bahasa inggris "urgent" (kata sifat), dalam bahasa indonesia "urgensi" (kata benda).Istilah urgensi menunjuk pada sesuatu yang mendorong kita, yang memaksa kita untuk diselesaikan

Al-Qur’an adalah sumber hukum utama dalam Islam, ia adalah    wahyu Allah ta’ala yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada Nabi         Muhammad Shalallahu Alaihih Wasalam. Sebagai sumber hukum Islam,   maka Al-Qur’an harus dipahami oleh seluruh umat Islam

Pada masa Rasulullah penafsiran Al-Qur’an dilakukan langsung oleh beliau, sehingga setiap ada ayat yang tidak dipahami oleh para shahabat maka langsung ditanyakan kepada Rasulullah. Inilah salah satu dari tugas beliau yaitu menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an,

Dalam urgensi tafsir ulama sepakat bahwa tafsir termasuk fardu kifayah dan merupakan salah satu dari tiga ilmu syariat yang paling utama setelah hadis dan fikih.  Keutamaan ilmu tafsir bukan hanya karena ilmu ini membahas pokok-pokok ajaran agama yang sangat dibutuhkan, akan tetapi mempelajari ilmu ini mengandung tujuan mulia, karena pokok kajiannya adalah Kalamullah


DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, al-Hajj, Yusuf, al-Qur’an Kitab Sains dan Medis, Grafindo Khazanah Ilmu, Jakarta, 2003.
al-Qardawi, Yusuf, Sunnah Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, PT. Tiara Wacana, Yogyakarta, 2001.
Aly, Noer, Hery & Suparta Munzier, Pendidikan Islam Kini dan Mendatang, CV. Triasco, Jakarta, 2003.
Habib, Zainal, Islamisasi Sains, UIN-Malang Press, Malang, 2007.
Shihab, Quraish, M, Membumikan al-Qur’an, Mizan, Bandung, 2004.


[1] al-Qardawi, Yusuf. 2001. Sunnah Ilmu Pengetahuan dan Peradaban. Yogyakarta. PT. Tiara Wacana h 44.
[2] Ahmad, al-Hajj, Yusuf. 2003. al-Qur’an Kitab Sains dan Medis. Jakarta. Grafindo Khazanah Ilmu. h 14.
[3] Ibid. h 15
[4] Habib, Zainal. 2007. Islamisasi Sains. Malang.  UIN-Malang Press, h 32
[5]Shihab, M Quraish. 2004. Membumikan al-Qur’an. Bandung. Mizan. h 21
[6] Aly, Noer, Hery & Suparta Munzier. 2003. Pendidikan Islam Kini dan Mendatang. Jakarta. CV. Triasco. h 32
[7] Opcit. 25
[8] Loccit. h 34
[9] Ibid. h 35
[10] Ahmad, al-Hajj, Yusuf. 2003. al-Qur’an Kitab Sains dan Medis. Jakarta. Grafindo Khazanah Ilmu. h 17.

[11] Shihab, M Quraish. 2004. Membumikan al-Qur’an. Bandung. Mizan. h 25
[12]  Habib, Zainal. 2007. Islamisasi Sains. Malang.  UIN-Malang Press, h 43

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar