Rabu, 13 November 2013
HEBATNYA ROKOK
Ada 4000 bahan kimia yang terdapat dalam sebatang rokok,diantaranya ada bahan untuk racun tikus,pengawet mayat,dan bahan2 kimia lain yang pastinya sangat amat membahayakan bagi tubuh manusia, dan setelah diteliti kembali didapati bahwa rokok dapat menyebabkan paru-paru akan lembab serta warna paru-paru perokok akan berubah menjadi hitam pekat,,,dan Indonesia,negara kita ini menjadi populasi perokok ke3 terbanyak didunia,,dan 45% diantaranya adalah pemuda yang pastinya ingin mati karena merokok,,,,,,
Selasa, 12 November 2013
PRODUK KESEHATAN DAN PERAWATAN OLALAA
BANYAK wanita yang pusing dengan biaya perawatan di salon ???
padahal tujuannya untuk tetap terlihat SEGAR, SEHAT, CANTIK, dan SEXY atau.........
BANYAK pria yang ingin tampil metropolis, gagah tampil dimasyarakat tanpa harus mondar-mandir salon pria
BERBAHAGIALAH
kini telah hadir solusi tepat untk keuangan perawatan anda
wanita tampil lebih SEXY CANTIK SEHAT dan FRESH
pria tampil SEHAT GAGAH MENAWAN
PROPOLIS dan MELIABIYANG
From Herbal Science Sdn, Bhd
Imported and distributed by
MELIA SEHAT SEJAHTERA
PROPOLIS berfungsi untuk
*Penyembuh SEMUA penyakit MAKHLUK HIDUP (Manusia Hewan Tumbuhan)
*Anti infeksi Radang Alergi dan Kangker
*Memperkuat daya tahan tubuh
*Mempercepta Regenerasi sel-sel
*Nutrisi yang bergizi tinggi
MELIA BIYANG berfungsi untuk
*Mencerahkan wajah dan membantu mencegah penuaan dini (KERIPUT hilang)
*Menghilangkan selulit
*Melembutkan kulit termasuk melindungi kulit yang sensistif
*Mengencangkan kulit pada wajah
*Menghilangkan JERAWAT dan FLEK HITAM pada wajah
*Menyamarkan lingkaran hitam dibawah mata
*Membersihkan bintik hitam sertaa Komedo pada wajah
*MemperKENCANG dan memperBESAR PAYUDARA dan menaikan BOKONG
*MeRAPATkan Mrs V (vagina)
*MemperPANJANG dan memperBESAR Mr P (Penis)
*Membuang LEMAK/kolesterol dalam tubuh (on the spot)
*Mengatasi perut buncit
*Mengatasi nyeri-nyeri, pegal, sakit leher, dsb
*Memulihkan daya ingat
*Meningkatkan VITALITAS keharmonisan hubungan keluarga/SEX (jadi tahan lama)
*Meregenerasi organ-organ vital dalam tubuh (Hati, Limpa, Ginjal, Pangkreas, Jantung, dll)
*dan masih banyak khasiat lannya.
Sudah banyak orang yang meembuktikan, termasuk ARTIS/Publik Figur Indonesia yang merasakan keDAHSYATan produk alami ini
Saatnya ANDA membuktikannya. . . . . . . .
cp
Luthfi(Distributor resmi MSS)
089685276053
Pin BB 21441C55
Rabu, 28 Maret 2012
CARA PENULISAN CATATAN KAKI DAN DAFTAR PUSTAKA
Cara menulis pada catatan kaki, urutannya sebagai berikut.
1. nama penulis atau pengarang (tidak dibalik)
2. judul buku
3. tempat diterbitkan
4. nama penerbit
5. tahun terbitan ditulis di dalam kurung
6. kemudian sertakan nomor halaman tempat informasi yang dicatat berada.
Dalam karangan ilmiah catatan kaki ditulis pada bagian bawah halaman, diberi ruangan khusus. Catatan kaki memberi keterangan sebuah kutipan pada karangan ilmiah. Contoh penulisan catatan kaki:
- Abdul Chaer, Pengantar Semantik Bahasa Indonesia (Jakarta: Rineka Cipta, 2002). hlm. 37.
Cara Penulisan Daftar Pustaka, urutannya sebagai berikut :
1. Nama ditulis terbalik, dan diurutkan sesuai abjad
2. Tahun Terbit
3. Judul Buku (ditulis Miring)
4. Tempat Terbit
5. Nama Penerbit
Contoh ada tiga judul buku yang harus dibuat daftar pustakanya:
1. Buku Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya karangan Slameto yang diterbitkan oleh PT Rineka Cipta di Jakarta tahun 1987
2. Buku Statistika Praktis untuk Penelitian Pendidikan karangan Prof. Dr. Dedi Heryadi yang diterbitkan oleh Universitas Siliwangi di Jakarta tahun 2009
3. Buku Penelitian Tindakan Kelas karangan Suharsimi Arikunto yang diterbitkan oleh PT Bumi Aksara di Jakarta tahun 2008
Maka Penulisannya sebagai berikut.
Arikunto, S. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara
Heryadi, Dedi. 2009. Statistika Praktis untuk Penelitian Pendidikan. Tasikmalaya: Universitas Siliwangi
Slameto. 1987. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Contoh Lain Pada Footnot :
1 David J. Schwartz, Berpikir dan Berjiwa Besar, Terj. F.X. Budiyanto, Jakarta: Binarupa Aksara, 1996, h. 15.
2 Harmanto Edy Djatmiko, Rahasia Sukses: The Best CEO Indonesia, Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2004, h. 69.
3 Ibid, h. 123.
4 Taufik Ismail, dkk, peny., Horison Sastra Indonesia, Jakarta: Horison, 2002, h. 17.
5 Dkokosantoso Moelyono, Budaya Korporat dan Keunggulan Koperasi, “Pengembangan Budaya Korporat”, Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2003, h. 34.
6 Ajip Rosidi, peny., Laut Biru Langit Biru, “Pantun Terang Bulan di Midwest”, Jakarta: Pustaka Jaya, 1977, h. 55.
7 Schwartz, op.cit, h. 25.
8 “Soeharto Terbengong-bengong, “Rakyat Merdeka”, 2 Desember 2001, h. 15.
9 Ismail Marahimin, Menulis Secara Populer, Edisi II, Cet. IV, Jakarta: Pustaka Jaya, 2003, h. 10.
10 Ismail, dkk, peny., op.cit, h. 30.
11 Marahimin, op.cit, h. 20
12 Djatmiko, op.cit, h. 143.
13 Moeljono, loc.cit, h. 36.
14 Marahimin, op.cit, h. 30.
15 Schwartz, op.cit, h. 25.
Contoh Lain Pada Daftar Pustaka :
Djatmiko, Harmanto Edy. 2004. Rahasia Sukses: The Best CEO Indonesia. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Ismail, Taufik, dkk. 2002. Horison Sastra Indonesia. Jakarta: Horison.
Marahimin, Ismail. 2003. Menulis Secara Populer, Edisi II Cet. IV. Jakarta: Pustaka Jaya
Moeljono, Djokosantoso. 2003. Budaya Korporat dan Keunggulan Korporasi, “Pengembangan Budaya Korporasi.” Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Rosidi, Ajip, peny. 1977. Laut Biru Langit Biru, “Pantun Terang Bulan di Midwest.” Jakarta: Pustaka Jaya.
Schwartz, David J. 1996. Berpikir dan Berjiwa Besar, terj. F.X. Budiyanto. Jakarta: Binarupa Aksara.
Soeharto Terbengong-bengong, “Rakyat Merdeka.” 2 Desember 2001.
TINGKATAN DALAM AGAMA ISLAM
Pembaca yang budiman, di kalangan tarekat sufi sangat terkenal adanya pembagian agama menjadi 3 tingkatan yaitu: Syari’at, Ma’rifat dan Hakikat. Orang/wali yang sudah mencapai tingkatan ma’rifat sudah tidak lagi terbebani aturan syari’at; sehingga dia tidak lagi wajib untuk sholat dan bebas melakukan apapun yang dia inginkan… demikianlah sebagian keanehan yang ada di seputar pembagian ini. Apakah pembagian semacam ini dikenal di dalam Islam?
Islam Mencakup 3 Tingkatan
Rosululloh shollallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari pernah didatangi malaikat Jibril dalam wujud seorang lelaki yang tidak dikenali jatidirinya oleh para sahabat yang ada pada saat itu, dia menanyakan kepada beliau tentang Islam, Iman dan Ihsan. Setelah beliau menjawab berbagai pertanyaan Jibril dan dia pun telah meninggalkan mereka, maka pada suatu kesempatan Rosululloh bertanya kepada sahabat Umar bin Khoththob, “Wahai Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya itu ?” Maka Umar menjawab, “Alloh dan Rosul-Nya lah yang lebih tahu”. Nabi pun bersabda, “Sesungguhnya dia itu adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (HR. Muslim). Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh mengatakan: Di dalam (penggalan) hadits ini terdapat dalil bahwasanya Iman, Islam dan Ihsan semuanya diberi nama ad din/agama (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 23). Jadi agama Islam yang kita anut ini mencakup 3 tingkatan; Islam, Iman dan Ihsan.
Tingkatan Islam
Di dalam hadits tersebut, ketika Rosululloh ditanya tentang Islam beliau menjawab, “Islam itu engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang haq) selain Alloh dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh, engkau dirikan sholat, tunaikan zakat, berpuasa romadhon dan berhaji ke Baitulloh jika engkau mampu untuk menempuh perjalanan ke sana”. Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan: Diantara faedah yang bisa dipetik dari hadits ini ialah bahwa Islam itu terdiri dari 5 rukun (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 14). Jadi Islam yang dimaksud disini adalah amalan-amalan lahiriyah yang meliputi syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji.
Tingkatan Iman
Selanjutnya Nabi ditanya mengenai iman. Beliau bersabda, “Iman itu ialah engkau beriman kepada Alloh, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rosul-Nya, hari akhir dan engkau beriman terhadap qodho’ dan qodar; yang baik maupun yang buruk”. Jadi Iman yang dimaksud disini mencakup perkara-perkara batiniyah yang ada di dalam hati. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan:
Diantara faedah yang bisa dipetik dari hadits ini adalah pembedaan antara islam dan iman, ini terjadi apabila kedua-duanya disebutkan secara bersama-sama, maka ketika itu islam ditafsirkan dengan amalan-amalan anggota badan sedangkan iman ditafsirkan dengan amalan-amalan hati, akan tetapi bila sebutkan secara mutlak salah satunya (islam saja atau iman saja) maka sudah mencakup yang lainnya. Seperti dalam firman Alloh Ta’ala, “Dan Aku telah ridho Islam menjadi agama kalian.” (Al Ma’idah : 3) maka kata Islam di sini sudah mencakup islam dan iman…(Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 17).
Tingkatan Ihsan
Nabi juga ditanya oleh Jibril tentang ihsan. Nabi bersabda, “Yaitu engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya, maka apabila kamu tidak bisa (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”. Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan: Diantara faedah yang bisa dipetik dari hadits ini adalah penjelasan tentang ihsan yaitu seorang manusia menyembah Robbnya dengan ibadah yang dipenuhi rasa harap dan keinginan, seolah-olah dia melihat-Nya sehingga diapun sangat ingin sampai kepada-Nya, dan ini adalah derajat ihsan yang paling sempurna. Tapi bila dia tidak bisa mencapai kondisi semacam ini maka hendaknya dia berada di derajat kedua yaitu: menyembah kepada Alloh dengan ibadah yang dipenuhi rasa takut dan cemas dari tertimpa siksa-Nya, oleh karena itulah Nabi bersabda, “Jika kamu tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu” artinya jika kamu tidak mampu menyembah-Nya seolah-olah kamu melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 21). Jadi tingkatan ihsan ini mencakup perkara lahir maupun batin.
Bagaimana Mengkompromikan Ketiga Istilah Ini?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan yang maknanya, Bila dibandingkan dengan iman maka Ihsan itu lebih luas cakupannya bila ditinjau dari substansinya dan lebih khusus daripada iman bila ditinjau dari orang yang sampai pada derajat ihsan. Sedangkan iman itu lebih luas daripada islam bila ditinjau dari substansinya dan lebih khusus daripada islam bila ditinjau dari orang yang mencapai derajat iman. Maka di dalam sikap ihsan sudah terkumpul di dalamnya iman dan islam. Sehingga orang yang bersikap ihsan itu lebih istimewa dibandingkan orang-orang mu’min yang lain, dan orang yang mu’min itu juga lebih istimewa dibandingkan orang-orang muslim yang lain… (At Tauhid li shoffil awwal al ‘aali, Syaikh Sholih Fauzan, hlm. 63)
Muslim, Mu’min dan Muhsin
Oleh karena itulah para ulama’ muhaqqiq/peneliti menyatakan bahwa setiap mu’min pasti muslim, karena orang yang telah merealisasikan iman sehingga iman itu tertanam kuat di dalam hatinya pasti akan melaksanakan amal-amal islam/amalan lahir. Dan belum tentu setiap muslim itu pasti mu’min, karena bisa jadi imannya sangat lemah sehingga hatinya tidak meyakini keimanannya dengan sempurna walaupun dia melakukan amalan-amalan lahir dengan anggota badannya, sehingga statusnya hanya muslim saja dan tidak tergolong mu’min dengan iman yang sempurna. Sebagaimana Alloh Ta’ala telah berfirman, “Orang-orang Arab Badui itu mengatakan ‘Kami telah beriman’. Katakanlah ‘Kalian belumlah beriman tapi hendaklah kalian mengatakan: ‘Kami telah berislam’.” (Al Hujuroot: 14). Dengan demikian jelaslah sudah bahwasanya agama ini memang memiliki tingkatan-tingkatan, dimana satu tingkatan lebih tinggi daripada yang lainnya. Tingkatan pertama yaitu islam, kemudian tingkatan yang lebih tinggi dari itu adalah iman, kemudian yang lebih tinggi dari tingkatan iman adalah ihsan (At Tauhid li shoffil awwal al ‘aali, Syaikh Sholih Fauzan, hlm. 64)
Kesimpulan
Dari hadits serta penjelasan di atas maka teranglah bagi kita bahwasanya pembagian agama ini menjadi tingkatan Syari’at, Ma’rifat dan Hakikat tidaklah dikenal oleh para ulama baik di kalangan sahabat, tabi’in maupun tabi’ut tabi’in; generasi terbaik ummat ini. Pembagian yang syar’i adalah sebagaimana disampaikan oleh Nabi yaitu islam, iman dan ihsan dengan penjelasan sebagaimana di atas. Maka ini menunjukkan pula kepada kita alangkah berbahayanya pemahaman sufi semacam itu. Lalu bagaimana mungkin mereka bisa mencapai keridhoan Alloh Ta’ala kalau cara beribadah yang mereka tempuh justeru menyimpang dari petunjuk Rosululloh ? Alangkah benar Nabi yang telah bersabda, “Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dari kami maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim). Barangsiapa yang ingin mencapai derajat muhsin maka dia pun harus muslim dan mu’min. Tidak sebagaimana anggapan tarekat sufiyah yang membolehkan orang yang telah mencapai Ma’rifat untuk meninggalkan syari’at. Wallohu a’lam.
Langganan:
Postingan (Atom)



